Ketika Golok Terangkat di Tanah Patriot: Bekasi, Budaya, dan Luka Kota Urban
Feature Budaya – Bekasi selalu punya cerita tentang keteguhan. Kota yang tumbuh dari kampung-kampung tua di bantaran sungai ini tidak pernah benar-benar kehilangan jiwanya sebagai kota rakyat. Di warung kopi pinggir jalan, di lapak pedagang kaki lima, hingga di gang sempit permukiman padat, Bekasi dibangun oleh cerita perjuangan orang kecil.
Orang Bekasi mengenal hidup keras, tapi juga mengenal rasa hormat. Dalam kultur lokal yang dipengaruhi tradisi Betawi pinggiran dan budaya Jawa Barat pesisir, masyarakat Bekasi tumbuh dengan nilai kekeluargaan yang kuat. Mereka percaya bahwa masalah seberat apa pun bisa diselesaikan lewat rembug warga, duduk bersama, dan mencari jalan tengah.
Namun satu peristiwa yang terjadi dalam penertiban pedagang kaki lima di Bekasi Utara seperti merobek lembaran nilai lama itu. Ketika seorang warga mengangkat senjata tajam di hadapan aparat dan pemimpin daerah, kejadian itu bukan sekadar konflik penertiban. Ia menjadi cermin retak antara budaya kerakyatan dan wajah kota modern yang sedang berusaha ditata.
Bekasi dan Filosofi Bertahan Hidup
Bagi banyak warga Bekasi, berdagang bukan sekadar mencari penghasilan. Ia adalah simbol kehormatan keluarga. Banyak pedagang kaki lima adalah generasi kedua bahkan ketiga yang mempertahankan usaha kecil sebagai warisan hidup.
Di Bekasi lama, berdagang di pinggir jalan bukan dianggap pelanggaran, tetapi bagian dari denyut ekonomi rakyat. Lapak sederhana menjadi ruang sosial, tempat orang berbagi kabar, bercengkerama, bahkan membangun solidaritas.
Dalam budaya lokal, mencari nafkah adalah bagian dari harga diri. Karena itu, ketika lapak ditertibkan, yang sering terluka bukan hanya ekonomi warga, tetapi juga perasaan kehilangan ruang hidup.
Golok: Antara Tradisi dan Distorsi
Golok bukan benda asing dalam sejarah masyarakat Bekasi dan Betawi. Ia dulu adalah alat kerja petani, simbol keberanian, sekaligus lambang perlindungan diri.
Namun budaya selalu hidup bersama konteks zamannya. Ketika golok berubah menjadi alat intimidasi, ia tidak lagi menjadi simbol tradisi, melainkan tanda bahwa budaya sedang kehilangan arah.
Insiden ancaman senjata tajam itu memperlihatkan satu ironi: simbol budaya yang seharusnya menjaga kehormatan justru berpotensi merusak citra masyarakatnya sendiri.
Dan luka itu terasa lebih dalam karena terjadi di ruang publik, di hadapan aparat, bahkan di hadapan pemimpin daerah.
Kota Urban yang Tumbuh Terlalu Cepat
Bekasi bukan lagi kota kecil. Ia telah berubah menjadi kota metropolitan yang menampung jutaan penduduk dari berbagai daerah. Pertumbuhan industri, perumahan, dan infrastruktur menjadikan Bekasi salah satu pusat urbanisasi terbesar di Indonesia.
Namun pertumbuhan kota sering berjalan lebih cepat daripada kemampuan sosial masyarakat untuk beradaptasi.
Trotoar yang dulunya ruang bersama kini menjadi ruang konflik. Sungai yang dulu menjadi pusat kehidupan kini berubah menjadi batas sosial. Penataan kota sering dianggap sebagai upaya modernisasi, tetapi bagi sebagian warga, ia terasa seperti penggusuran ruang hidup.
Pembiaran pelanggaran bertahun-tahun menciptakan zona abu-abu antara hukum dan kebiasaan. Ketika aturan akhirnya ditegakkan, konflik menjadi nyaris tak terhindarkan.
Ketegasan Negara dan Kerentanan Rakyat
Penertiban memang harus dilakukan. Kota tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa aturan. Ruang publik harus kembali kepada fungsi utamanya. Negara tidak boleh kalah oleh ancaman kekerasan.
Namun negara juga tidak boleh lupa bahwa kota bukan hanya bangunan, trotoar, dan drainase. Kota adalah manusia dengan cerita hidupnya.
Penegakan hukum tanpa pendekatan kemanusiaan berisiko melahirkan perlawanan sosial. Sebaliknya, pendekatan empati tanpa ketegasan berisiko melanggengkan pelanggaran.
Bekasi hari ini berdiri di tengah persimpangan itu.
Budaya Bekasi Sedang Menghadapi Ujian Identitas
Orang Bekasi dikenal keras dalam sikap, tetapi lembut dalam hati. Mereka terbiasa berbicara lugas, namun tetap menjunjung tinggi rasa hormat kepada pemimpin dan tamu.
Insiden tersebut seakan menjadi alarm bahwa perubahan sosial sedang mengguncang karakter lama masyarakat Bekasi. Urbanisasi, tekanan ekonomi, dan ketimpangan ruang hidup perlahan mengikis tradisi musyawarah.
Jika konflik sosial mulai menggantikan dialog budaya, Bekasi berisiko kehilangan identitasnya sebagai kota dengan akar solidaritas kuat.
Masa Depan Kota Tidak Bisa Dibangun dengan Ketakutan
Bekasi membutuhkan ketertiban. Tetapi Bekasi juga membutuhkan rasa keadilan sosial. Penataan kota harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar koreksi terhadap pelanggaran lama.
Penertiban yang tidak disertai pemberdayaan hanya akan memindahkan masalah ke tempat lain. Kota yang baik bukan hanya kota yang rapi secara visual, tetapi kota yang memberi ruang hidup bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pelajaran dari Sebilah Golok
Peristiwa itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi dampaknya bisa bertahan lama dalam memori sosial masyarakat.
Golok yang terangkat di tanah Bekasi bukan hanya ancaman keamanan. Ia adalah simbol kegelisahan warga kota yang sedang berjuang mencari tempat di tengah perubahan zaman.
Bekasi hari ini sedang belajar menjadi kota modern tanpa kehilangan jiwa kampungnya. Sebuah proses yang tidak mudah, tetapi harus dilalui.
Karena kota yang besar bukan kota yang bebas konflik, melainkan kota yang mampu menyelesaikan konflik tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Bocah Angon Bekasi

