Ketika Pena dan Panggilan Bertemu Api yang Menyala di Konferensi Penginjilan Nasional 2026

Ketika Pena dan Panggilan Bertemu Api yang Menyala di Konferensi Penginjilan Nasional 2026

Spread the love

Ketika Pena dan Panggilan Bertemu Api yang Menyala di Konferensi Penginjilan Nasional 2026

Diceritakan dan dituliskan oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas), Jurnalis Senior Pewarna Indonesia, Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara Group

Bogor – Ada banyak peristiwa yang pernah saya liput sepanjang perjalanan jurnalistik saya. Ruang sidang yang panas, polemik kebangsaan yang tajam, hingga dinamika sosial yang menyita perhatian publik. Dalam semua itu, saya terbiasa berdiri dengan sikap profesional: mencatat, memverifikasi, lalu menuliskan fakta dengan disiplin.

Namun di Konferensi Penginjilan Nasional 2026, saya tidak hanya berdiri sebagai pewarta. Saya berdiri sebagai seorang yang dipanggil.

Lebih dari 300 pelayan Tuhan dari seluruh Indonesia berkumpul dalam satu visi. Mereka datang membawa cerita ladang pelayanan masing-masing—ada yang melayani di kota besar, ada yang setia di pelosok, ada yang bergumul dengan generasi digital, ada yang menghadapi tekanan sosial secara langsung. Tetapi di ruangan itu, perbedaan latar belakang melebur dalam satu tekad: Injil harus tetap diberitakan.

Ketika pujian dinaikkan, saya melihat tangan-tangan terangkat dengan kesungguhan, bukan karena seremoni, tetapi karena kerinduan. Ketika doa dipanjatkan, saya mendengar getar suara yang membawa beban nyata. Itu bukan retorika rohani. Itu kehidupan.

Sebagai Jurnalis Senior Pewarna Indonesia dan Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara Group, naluri saya bekerja: saya menangkap detail, membaca ekspresi, mengamati dinamika diskusi. Saya mencatat bagaimana para peserta berbicara tentang tantangan penginjilan di era digital, tentang perlunya strategi yang relevan, tentang kolaborasi lintas wilayah dan generasi.

Diskusi berlangsung tajam namun dewasa. Ada perbedaan pendapat, tetapi tidak ada perpecahan. Ada kritik, tetapi dibingkai kasih. Di sanalah saya melihat sesuatu yang jarang: persatuan yang lahir dari visi, bukan dari keseragaman.

Konferensi ini mengedukasi saya bahwa penginjilan hari ini tidak bisa berjalan hanya dengan semangat. Ia membutuhkan strategi, kecerdasan membaca zaman, dan integritas yang tidak tergoyahkan. Pesan Injil tidak berubah, tetapi cara menjangkaunya harus terus diperbarui. Adaptif tanpa kompromi. Relevan tanpa kehilangan kebenaran.

Di sela kegiatan, saya sempat merenung. Apakah saya hanya akan menuliskan ini sebagai laporan kegiatan? Ataukah saya akan membiarkan pengalaman ini mengubah cara saya menjalani panggilan?

Jawabannya jelas.

Konferensi Penginjilan Nasional 2026 bukan hanya memperkaya saya sebagai jurnalis. Ia meneguhkan saya sebagai pribadi. Saya tidak pulang hanya membawa bahan berita. Saya pulang membawa api—api yang menuntut konsistensi antara apa yang saya tulis dan apa yang saya hidupi.

Di titik itulah saya memahami makna judul ini: ketika pena dan panggilan bertemu, tulisan tidak lagi sekadar informasi. Ia menjadi kesaksian.

Dan kesaksian itu kini saya hidupi—di ruang redaksi, di medan pelayanan, dan di setiap kesempatan ketika saya bersuara.

Karena pada akhirnya, yang menggerakkan perubahan bukan hanya peristiwa besar,
melainkan hati yang rela diutus dan setia menjaga api itu tetap menyala.