
Ketika Pengabdian Menjadi Warisan: Mengenang Ir. H. Muaz HD MM yang Memilih Melayani di Atas Popularitas
Bogor – Tidak semua politisi meninggalkan jejak melalui pidato-pidato besar atau sorotan kamera. Sebagian memilih bekerja dalam diam, membangun kepercayaan melalui tindakan, dan dikenang karena ketulusannya. Sosok seperti itulah yang banyak dilekatkan kepada Ir. H. Muaz HD MM.
Kabar wafatnya anggota DPRD Kota Bogor dari Fraksi PKS itu pada Kamis (11/6/2026) membawa kesedihan bagi banyak kalangan. Namun di balik suasana duka, tersimpan kisah panjang tentang seorang insan yang memaknai politik sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar arena kompetisi.
Perjalanan hidup Muaz dimulai dari Singaraja, Bali, tempat ia dilahirkan pada 1 Januari 1960. Sejak usia muda, aktivitas organisasi dan dakwah telah menjadi bagian dari kesehariannya. Karakter disiplin dan kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar terus tumbuh hingga membawanya menempuh pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor.
Prestasi akademik yang diraihnya tidak membuatnya berhenti belajar. Ia terus memperkaya wawasan melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan, baik di dalam maupun luar negeri. Baginya, ilmu bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bekal untuk memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Sebelum dikenal sebagai legislator, Muaz lebih dulu berkiprah di dunia pendidikan. Pengalaman sebagai dosen dan pengelola perguruan tinggi membentuk cara pandangnya bahwa pembangunan harus dimulai dari peningkatan kualitas manusia. Prinsip itu kemudian dibawanya ketika memasuki dunia politik.
Di DPRD Kota Bogor, ia dikenal sebagai pribadi yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Rekan-rekan sejawat mengenangnya sebagai sosok yang tenang dalam menyampaikan pandangan, tetapi tegas ketika menyangkut kepentingan publik. Baginya, perbedaan politik tidak boleh menghalangi terciptanya solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pandangan tersebut pula yang membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan. Dalam setiap pembahasan kebijakan, ia berupaya menghadirkan keseimbangan antara idealisme, kebutuhan masyarakat, dan tanggung jawab sebagai penyelenggara negara.
Di luar ruang sidang, Muaz tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Dakwah baginya tidak hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi juga diwujudkan dalam sikap hidup, kejujuran, dan komitmen untuk membantu sesama.
Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya. Bersama sang istri dan anak-anaknya, ia membangun kehidupan yang sederhana namun sarat dengan nilai pendidikan dan spiritualitas. Dukungan keluarga menjadi fondasi yang menguatkan setiap langkahnya dalam melayani masyarakat.
Kini, perjalanan itu telah berakhir. Namun, bagi mereka yang pernah mengenalnya, Ir. H. Muaz HD MM meninggalkan pesan bahwa kekuasaan hanyalah amanah yang bersifat sementara, sedangkan integritas dan keteladanan adalah warisan yang akan terus hidup.
Di tengah dinamika politik yang terus berubah, sosok seperti Muaz menjadi pengingat bahwa pelayanan publik tidak selalu diukur dari seberapa keras seseorang berbicara, tetapi dari seberapa tulus ia bekerja untuk kepentingan orang banyak.
Kepergiannya mungkin menutup satu bab perjalanan hidup, tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan akan tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk membangun politik yang santun, beretika, dan berpihak kepada masyarakat.
Jurnalis: Romo Kefas :::





