MENJADI LENTERA DI TENGAH BADAI INFORMASI

MENJADI LENTERA DI TENGAH BADAI INFORMASI

Spread the love

Pergulatan Jurnalis Kristen Menjaga Kebenaran di Era Disrupsi dan Kebisingan Publik

Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


Bogor – Di zaman ketika kebenaran sering kalah cepat dari kebohongan, profesi jurnalis berdiri seperti pelita yang diuji angin badai. Arus informasi bergerak liar, teknologi menciptakan realitas semu, dan ruang publik dipenuhi suara yang saling bertabrakan tanpa arah. Dalam pusaran inilah jurnalis tidak lagi sekadar penulis berita, melainkan penjaga kewarasan masyarakat. Dan bagi jurnalis Kristen, tugas itu melampaui profesi—ia adalah panggilan iman, panggilan nurani, sekaligus panggilan sejarah.

Jurnalis Kristen hari ini hidup dalam tekanan zaman yang kompleks. Dunia digital melahirkan kecepatan, tetapi sering mengorbankan kedalaman. Media sosial menciptakan popularitas, tetapi sering mengaburkan kebenaran. Artificial Intelligence memudahkan produksi informasi, tetapi juga membuka ruang manipulasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah jurnalis masih berdiri sebagai penjaga kebenaran, atau justru ikut hanyut dalam arus sensasi?

Era disrupsi informasi telah mengubah wajah jurnalistik secara radikal. Kecepatan menjadi mata uang baru. Viralitas menjadi tolok ukur keberhasilan. Banyak ruang redaksi terjebak dalam perlombaan klik dan popularitas, seakan-akan nilai sebuah berita ditentukan oleh jumlah pembaca, bukan kedalaman kebenaran.

Namun bagi jurnalis Kristen, kebenaran tidak pernah tunduk pada algoritma. Ia lahir dari keberanian menggali fakta, kesabaran memverifikasi data, dan kejujuran menyampaikan realitas. Kebenaran bukan sekadar informasi yang cepat, tetapi cahaya yang menerangi masyarakat agar tidak tersesat dalam kabut manipulasi.

Tantangan lain datang dari tekanan politik dan ekonomi. Kepemilikan media oleh kelompok kekuasaan seringkali memengaruhi arah pemberitaan. Idealisme jurnalis diuji ketika ruang redaksi berhadapan dengan kepentingan pemodal, agenda politik, dan tekanan kekuasaan.

Dalam situasi seperti ini, jurnalis Kristen dipanggil untuk menjaga independensi moral. Netralitas bukan berarti tanpa sikap, melainkan keberanian berdiri di tengah tanpa kehilangan keberpihakan pada keadilan dan kebenaran. Pers harus tetap menjadi penyeimbang kekuasaan, bukan menjadi alat legitimasi kepentingan tertentu.

Jurnalisme sejatinya bukan hanya menyampaikan berita, tetapi membentuk cara masyarakat memahami realitas. Pers memiliki peran mendidik publik, membangun literasi informasi, dan menjaga kualitas demokrasi. Ketika informasi yang beredar penuh disinformasi, jurnalis menjadi guru yang mengajarkan masyarakat membaca fakta dengan jernih.

Dalam konteks ini, jurnalis Kristen memikul tanggung jawab ganda. Ia tidak hanya menjaga kualitas informasi, tetapi juga menjaga kualitas kesadaran moral masyarakat. Informasi yang disampaikan harus membangun harapan, bukan menebar ketakutan. Memberi pencerahan, bukan memperkeruh konflik.

Tidak banyak yang memahami bahwa profesi jurnalis adalah profesi yang sarat pergumulan batin. Tekanan pekerjaan, ancaman keselamatan, konflik kepentingan, hingga kelelahan emosional menjadi bagian dari perjalanan profesi ini. Bagi jurnalis Kristen, pergumulan tersebut sering menjadi ruang refleksi spiritual.

Menulis kebenaran sering berarti berdiri sendirian. Menyampaikan fakta kadang berarti menghadapi risiko. Namun justru dalam kesunyian itulah jurnalis menemukan makna panggilan. Jurnalisme bukan hanya pekerjaan mencari nafkah, tetapi pelayanan sosial yang menuntut keberanian moral.

Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Polarisasi sosial, konflik identitas, dan perbedaan pandangan seringkali memecah ruang publik. Dalam situasi seperti ini, pers memiliki peran strategis sebagai penenun persatuan.

Jurnalis Kristen dipanggil menghadirkan narasi yang menenangkan, membangun dialog lintas iman, dan menjaga harmoni kebhinekaan. Informasi harus menjadi jembatan yang mempertemukan perbedaan, bukan tembok yang memisahkan masyarakat.

Budaya viral telah mengubah pola konsumsi informasi. Sensasi sering lebih menarik daripada fakta. Banyak media tergoda mengorbankan etika demi popularitas. Di sinilah integritas jurnalis diuji.

Jurnalis Kristen harus mampu menolak godaan sensasionalisme. Viralitas bukan tujuan utama, melainkan konsekuensi dari karya jurnalistik yang jujur dan berkualitas. Ketika jurnalis kehilangan integritas, maka pers kehilangan kepercayaan publik.

Tantangan besar lainnya adalah regenerasi jurnalis berintegritas. Generasi muda sering melihat jurnalisme hanya sebagai profesi, bukan panggilan nilai. Tanpa kaderisasi yang kuat, profesi pers berpotensi kehilangan arah moral.

Komunitas jurnalis Kristen memiliki tanggung jawab membangun generasi baru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter. Pendidikan etika jurnalistik, pembinaan spiritual, dan pembentukan integritas harus menjadi fondasi masa depan pers.

Lebih dari sekadar penyampai informasi, pers adalah penjaga moral publik. Informasi yang benar membangun kesadaran masyarakat. Informasi yang salah dapat menghancurkan tatanan sosial. Dalam konteks ini, jurnalis menjadi penjaga nurani bangsa.

Ketika pers berdiri tegak, demokrasi tumbuh sehat. Ketika pers runtuh karena kepentingan, bangsa kehilangan arah moral. Jurnalis Kristen memiliki tanggung jawab menjaga agar pers tetap menjadi cahaya yang menuntun masyarakat.

Profesi jurnalis tidak lepas dari ancaman kriminalisasi dan intimidasi. Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar sering lahir dari keberanian menulis kebenaran. Tanpa keberanian, jurnalisme kehilangan rohnya.

Jurnalis Kristen dipanggil menjadi saksi kebenaran, bukan hanya pencatat peristiwa. Mereka harus mampu berdiri teguh ketika tekanan datang, dan tetap menulis ketika suara kebenaran berusaha dibungkam.

Jurnalis sejatinya adalah pemimpin opini. Tulisan mereka membentuk cara masyarakat memandang dunia. Oleh karena itu, jurnalis Kristen harus menghadirkan kepemimpinan berbasis nilai. Kepemimpinan yang lahir dari integritas, bukan dari kekuasaan.

Dalam dunia yang penuh kebisingan kepentingan, jurnalis harus menjadi suara yang jernih. Dalam dunia yang dipenuhi manipulasi, jurnalis harus menjadi penjaga kebenaran.

Jurnalis Kristen hari ini berdiri di tengah perubahan zaman yang tidak mudah. Teknologi, politik, ekonomi, dan budaya digital menciptakan tantangan yang kompleks. Namun panggilan moral profesi ini tetap sama: menjaga kebenaran, membela keadilan, dan merawat kemanusiaan.

Jurnalisme bukan sekadar tentang berita. Ia adalah tentang tanggung jawab sejarah. Tentang bagaimana generasi hari ini akan dikenang oleh generasi mendatang. Apakah pers menjadi alat manipulasi, atau tetap menjadi lentera yang menerangi bangsa.

Ketika jurnalis memilih berdiri di sisi kebenaran, sesungguhnya mereka sedang menyalakan cahaya yang tidak akan pernah padam—cahaya yang menjaga masa depan peradaban.