Menyelami Ekoteologi: Panggilan Iman untuk Menyelamatkan Bumi

Menyelami Ekoteologi: Panggilan Iman untuk Menyelamatkan Bumi

Spread the love

Sleman – 29/11/2025. Pernahkah Anda berhenti sejenak dan merenungkan bagaimana keyakinan spiritual dapat terajut erat dengan kondisi planet kita? Di tengah desakan krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin parah, sebuah disiplin ilmu dan gerakan mulai muncul, menawarkan jembatan baru antara dimensi spiritualitas dan upaya pelestarian alam. Inilah Ekoteologi, sebuah pandangan yang tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang Tuhan, tetapi juga menempatkan manusia dalam posisi tanggung jawab yang fundamental terhadap seluruh ciptaan.

Secara sederhana, Ekoteologi adalah pemikiran sistematis yang meninjau ulang semua ajaran teologis, etika, dan praktik keagamaan dengan mempertimbangkan perspektif ekologis. Tujuannya adalah untuk mengartikulasikan dan memahami keterkaitan timbal balik antara Tuhan, umat manusia, dan alam semesta. Inti dari pandangan ini adalah anggapan bahwa krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini tidak semata-mata berasal dari masalah teknis atau ekonomi, melainkan berakar pada krisis spiritual dan teologis, khususnya akibat adanya pandangan keliru mengenai dominasi manusia atas alam.

Meskipun kesadaran akan pentingnya alam telah lama mengakar dalam berbagai tradisi agama, Ekoteologi mulai menguat sebagai sebuah disiplin formal menyusul meningkatnya kesadaran lingkungan pada tahun 1960-an dan 1970-an.

Salah satu pemikir penting yang merumuskan landasan konsep ini adalah teolog Amerika, Thomas Berry (1914–2009). Ia mendesak agar agama-agama menyesuaikan kosmologi mereka dengan penemuan ilmiah modern tentang alam semesta, menyambut “era ekologis.” Kontribusi lain yang tak kalah penting datang dari sejarawan Lynn White Jr. Pada tahun 1967, melalui esai provokatifnya, ia menyampaikan argumen bahwa penafsiran teologi Kristen yang terlalu berpusat pada manusia (antroposentris)—yaitu bahwa manusia berhak mendominasi alam—telah memberikan pembenaran religius bagi eksploitasi lingkungan secara besar-besaran.

Alasan utama kelahiran Ekoteologi adalah untuk merespons ancaman krisis ekologis yang serius, kondisi ketidakseimbangan parah yang mengancam daya dukung bumi dan keberlanjutan hidup di planet ini.

Kritik mendasar yang dilontarkan Ekoteologi adalah bahwa banyak tradisi agama, terutama yang monoteistik, tanpa disadari telah mendukung antroposentrisme—pandangan bahwa manusia adalah pusat dan tujuan segala sesuatu. Pandangan ini pada akhirnya membenarkan eksploitasi alam tanpa batas. Ekoteologi berusaha keras untuk menggeser paradigma ini.

Gerakan ini menyerukan pergeseran ke teosentrisme atau biotisentrisme, di mana Tuhan dan/atau kehidupan itu sendiri yang menjadi titik sentral, sementara manusia diposisikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari komunitas bumi, alih-alih sebagai penguasa yang terpisah.

Ekoteologi menawarkan kerangka moral dan spiritual yang sangat kuat untuk aksi lingkungan. Bagi banyak orang beriman, dorongan untuk bertindak hanya akan menjadi kuat jika didasarkan pada keyakinan yang mendalam. Dengan demikian, Ekoteologi memberikan landasan teologis yang solid: merawat lingkungan bukanlah sekadar pilihan etis tambahan, melainkan merupakan kewajiban utama iman itu sendiri.

Konsep Ekoteologi memiliki relevansi universal dan telah diakui dalam berbagai agama. Dalam Islam, misalnya, ajaran tentang khalifah (mandat sebagai lwakil Tuhan di bumi) dan mizan (keseimbangan) secara langsung menuntut tanggung jawab untuk memelihara alam. Begitu pula dalam Buddhisme dan Hinduisme, prinsip ahimsa (tanpa kekerasan) meluas hingga mencakup semua makhluk hidup.

Bagi umat Kristen, Ekoteologi menawarkan tantangan untuk menafsirkan ulang ayat-ayat seperti Kejadian 1:28, di mana manusia diberi mandat untuk “menguasai” bumi. Ekoteologi mengusulkan pemahaman baru bahwa ‘menguasai’ seharusnya diartikan sebagai memelihara, mengelola, dan melayani, seperti yang ditegaskan kembali dalam Kejadian 2:15, di mana Adam ditempatkan di Taman Eden untuk “mengusahakan dan memelihara”-nya.

Doktrin-doktrin kunci seperti inkarnasi Kristus (Firman yang menjadi daging) dan Roh Kudus (yang menghidupi seluruh ciptaan) memperkuat nilai intrinsik dan kesucian alam semesta. Ekoteologi Kristen memanggil umatnya untuk mengambil bagian dalam pembebasan kosmik yang dinubuatkan (Roma 8:19-22), membebaskan ciptaan dari kehancuran.

Di Indonesia, sebuah negara yang kaya keanekaragaman hayati namun rentan terhadap bencana ekologis, penerapan Ekoteologi menjadi sangat mendesak. Konsep ini menjadi landasan kuat bagi praktik Moderasi Beragama dalam isu lingkungan, mendorong umat beragama dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan melindungi alam sebagai rumah bersama, menolak ekstremisme yang eksploitatif, dan mempromosikan keadilan ekologis.

Salah satu akibat dikesampingkannya ekoteologi adalah bencana banjir yang belum lama terjadi di beberapa wilayah sumatera. Banyak kalangan yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa bencana tragis ini hanyalah “cuaca ekstrem” atau “siklon tropis yang jarang terjadi”—seolah-olah musibah ini murni peristiwa alami yang tidak dapat dihindari.

Akan tetapi, jika kita melihat besarnya kerusakan, jumlah korban jiwa, dan pola terulang dari bencana serupa yang cenderung meningkat setiap tahun di wilayah yang sama, ini mengindikasikan bahwa masalahnya jauh lebih dalam daripada sekadar curah hujan tinggi. Bencana ini adalah konsekuensi dari arah pembangunan nasional yang selama ini telah mengabaikan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan.

Dikutip dari kompas.com, manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, Jaka Kelana Damanik, menyebut kerusakan ekosistem Hutan Batang Toru menjadi faktor utama. Hutan tersebut berada di wilayah Tapsel, Tapteng, dan Tapanuli Utara (Taput).

Hal itu terbukti dengan beredarnya sebuah rekaman video yang menampilkan kayu gelondongan (potongan batang pohon besar) hanyut terbawa arus banjir yang sangat deras. Video yang viral di media sosial tersebut menunjukkan kayu-kayu yang terpotong rapi dan diduga hasil dari penebangan liar (illegal logging).

Untuk mendalami dan mempraktikkan Ekoteologi, umat Kristen didorong untuk menata ulang Pendidikan Teologis dengan lensa ekologis; memahami kembali Alkitab dan doktrin sebagai panggilan untuk menjadi pelayan ciptaan, bukan penguasa yang merusak; mengubah gaya hidup menjadi lebih bertanggung jawab, misalnya dengan mengurangi konsumsi, mendaur ulang, dan mendukung produk berkelanjutan; Berperan aktif dalam advokasi kebijakan lingkungan dan proyek konservasi di komunitas lokal; Bekerja sama lintas iman dalam semangat Moderasi Beragama untuk menghadapi tantangan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama umat manusia.

Pada akhirnya, Ekoteologi lebih dari sekadar tren teologis. Ini adalah seruan mendesak untuk kembali kepada inti terdalam dari semua iman: kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, yang kini harus diperluas menjadi kasih kepada seluruh ciptaan. Ketika kita menjaga dan merawat bumi, kita tidak hanya melestarikan sumber daya, tetapi kita juga memuliakan Sang Pencipta yang sejak awal telah melihat bahwa “semuanya itu baik” adanya.

Penulis : SHN
Foto : Gemini AI

error: Content is protected !!