
Sekolah Didorong Jadi Pusat Pembelajaran Iklim, Kolaborasi Internasional Mulai Diterapkan di Bogor
Bogor — Upaya menghadirkan pendidikan yang relevan dengan tantangan global semakin mendapat perhatian, khususnya dalam merespons isu perubahan iklim. Di Bogor, pendekatan pembelajaran mulai diarahkan pada praktik langsung melalui program School-Led Climate Action 2026 yang melibatkan kolaborasi lintas negara.
Program ini diinisiasi oleh DeTara Foundation bersama mitra dari Belanda, Wilde Ganzen Foundation dan Global Exploration. Selain melibatkan sekolah-sekolah di Indonesia, kegiatan ini juga menghadirkan partisipasi siswa dan guru dari Zwijsen College sebagai bagian dari pertukaran pembelajaran internasional.
Sejumlah sekolah yang terlibat antara lain Yayasan Al Ghazali Kota Bogor, SMAN 4 Kota Bogor, SMAN 2 Cibinong (SMAVO), serta SMK Golden Ranca Bungur. Dalam implementasinya, sekolah diarahkan tidak hanya sebagai tempat penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang uji bagi berbagai solusi lingkungan yang dapat diterapkan secara langsung.
Founder DeTara Foundation, Desi Sutejo, menyatakan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk respons generasi muda terhadap krisis iklim.
“Pembelajaran perlu dikaitkan dengan realitas yang dihadapi. Ketika siswa dilibatkan dalam praktik, mereka tidak hanya memahami persoalan, tetapi juga belajar mencari solusi,” ujarnya.
Empat fokus utama menjadi dasar pelaksanaan program, yaitu pengelolaan air, pengurangan sampah, efisiensi energi, serta ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati. Masing-masing fokus diterjemahkan ke dalam kegiatan konkret, seperti konservasi air, pengelolaan sampah berbasis 3R, audit energi sekolah, serta praktik pertanian menggunakan metode hidroponik dan sistem vertikal.
Selain kegiatan utama, siswa juga didorong mengembangkan inovasi sederhana yang memanfaatkan sumber daya yang ada, termasuk pengolahan limbah dan pemanfaatan energi alternatif skala kecil. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus kesadaran lingkungan.
Direktur DeTara Foundation, Latipah Hendarti, menilai bahwa keterlibatan peserta dari dua negara memberikan nilai tambah dalam proses pembelajaran.
“Kolaborasi ini memperluas perspektif siswa. Mereka belajar bahwa tantangan perubahan iklim memerlukan kerja sama lintas batas,” katanya.
Kegiatan ini juga mencakup pertukaran budaya sebagai bagian dari pembelajaran sosial. Interaksi antar peserta diharapkan dapat memperkuat pemahaman lintas budaya serta membangun sikap saling menghargai.
Sebagai tindak lanjut, program ini akan diperluas melalui inisiatif GEN-Z-Alpha Climate Action yang bertujuan meningkatkan partisipasi sekolah dalam membangun kebiasaan ramah lingkungan secara berkelanjutan.
Pendekatan pendidikan berbasis praktik ini dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya memahami isu perubahan iklim, tetapi juga mampu berperan aktif dalam menghadapi tantangan tersebut.
Sumber: Yusd
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi



