Klikberita.net
Hari ke-1 tahun 2026. Jam 05.30 WIB. Alfian bangkit dari kasur baru yang dia beli dengan uang sisa donasi – sentuhan kecil yang membuatnya merasa bahwa perjuangan itu ada hasilnya. Perutnya tidak lagi menggeram di pagi hari – dia membuat nasi goreng dengan telur dan bayam yang dia beli dari tetangga, karena sekarang dia punya sedikit uang lebih untuk makan sehat.
Di meja, laptopnya menyala menampilkan halaman pelitanusantara.com – laporan tentang pembagian buku di Ciawi sudah dibaca lebih dari 50.000 kali, dan ada ratusan komentar yang menyebutkan bahwa cerita itu membuat mereka ingin melakukan kebaikan juga. Dia memegang kamera Sony A6600-nya dan kaleidoskop kecil yang sudah agak aus – setiap lekukan di kaleidoskop itu mengingatkannya pada luka yang dia alami, tapi juga pada harapan yang muncul setelahnya.
Hari ini, dia akan ke Desa Sukabumi – bukan hanya untuk meliput, tapi untuk melihat bagaimana cerita yang dia tulis sebelumnya telah menimbulkan perubahan. Dia naik bis dari Bogor ke Sukabumi, berjalan kaki 3 km ke desa – tapi kali ini, langkahnya lebih ringan, karena dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Di tasnya, selain buku catatan dan Alkitab, ada uang saku dari Pak Anton dan pesan singkat: “Kamu yang membuat kita percaya bahwa cerita itu berharga – lanjutkan.”
“Setiap putaran kaleidoskop bukan cuma perubahan pola – tapi perubahan jalan yang kita lalui,” bisiknya sambil memutar kaleidoskop. Pola baru muncul: hijau segar seperti sawah yang subur, oranye hangat seperti matahari pagi yang menyinari – warna-warni yang menggambarkan harapan yang tumbuh dari luka yang lalu.
Jam 08.00 WIB. Alfian tiba di Desa Sukabumi. Dia melihat sawah yang luas, di mana segerombolan petani sedang bekerja dengan semangat. Di tengahnya, Pak Joko – petani yang sukses menanam padi organik – mendekatinya dengan senyum lebar.
“Pak Alfian! Aku menunggu kamu!” serunya. “Aku baca ceritamu tentang Desa Curug di pelitanusantara.com – waktu itu, aku lagi sedih karena tanaman gagal dan uang habis. Tapi kalimatmu ‘keberanian itu takut, tapi tetap melangkah’ – itu seperti cahaya yang menyinari jalan ku.”
Alfian mulai mencatat. Pak Joko menceritakan bagaimana dia hampir berhenti, tapi cerita tentang nenek Siti yang mendapatkan air bersih membuatnya berpikir: “Jika dia bisa menangani kesulitan, kenapa aku tidak bisa?” Dia mulai mempelajari teknik padi organik dari buku yang dia pinjam di perpustakaan desa, dan sekarang panennya melimpah. Bahkan, dia membagikan bibit dan pengetahuan ke 15 petani lain di desa.
“Lihat itu,” katanya, menunjuk ke sekeliling. “Semua sawah ini sekarang organik – semuanya karena cerita yang kamu bagikan.”
Alfian merasa mata sedikit basah. Dia membuka Alkitabnya, membaca ayat Amsal 3:27 yang dia ingat: “Janganlah ragu untuk melakukan kebaikan…” Sekarang dia menyadari: kebaikan yang dia lakukan dengan menulis tidak hanya membantu orang di satu desa – tapi menumbuhkan kebaikan di desa lain, dan lain lagi.
Jam 12.00 WIB. Saat makan nasi bungkus yang diberikan Pak Joko, telepon HPnya berdering. Itu Bu Lina dari Yayasan Buku untuk Anak:
“Pak Alfian, kabar hebat! Setelah laporanmu ditayangkan, seorang pengusaha Jakarta mau memberikan 1.000 buku lagi dan mendirikan perpustakaan kecil di Desa Curug! Anak-anak sana akan punya tempat baca, dan kita akan mulai program bimbingan belajar – semuanya karena cerita yang kamu tulis!”
Air mata Alfian menetes. Di sampingnya, Pak Joko menepuk pundaknya: “Lihat ya, Pak – luka yang kamu alami untuk menulis cerita itu, sekarang menjadi cahaya yang menghidupkan banyak orang.”
Alfian mengangkat kamera, menangkap momen ketika Pak Joko membagikan bibit padi ke petani tetangga. Sinar matahari tengah hari menyinar sawah, membentuk kilauan hijau yang indah. Dia memutar kaleidoskop sekali lagi – pola yang muncul adalah campuran semua warna: hitam dari Maret, putih dari Mei, merah dari Juli, biru dari November, dan hijau dari hari ini. Semuanya saling menyilang, membentuk pola yang lebih kompleks dan indah – seperti perjalanan yang terus berkembang.
Jam 16.00 WIB. Alfian berjalan menuju halte bis. Dia menulis catatan akhir di buku catatannya:
“Setiap putaran kaleidoskop mengingatkanku bahwa luka tidak akan hilang – tapi ia bisa menjadi bagian dari pola yang lebih indah. Tekanan ekonomi masih ada, tapi aku punya lebih banyak dari uang: aku punya cerita yang dipercaya, teman yang mendukung, dan cahaya yang terus menyinari jalan baru. Besok, kaleidoskop akan berputar lagi – dan aku akan siap untuk menangkap pola baru, berbagikannya, dan melihat bagaimana ia menghidupkan kehidupan orang lain.”
Di jalan pulang, matahari sore menyinar di belakangnya, membentuk lingkaran cahaya di lensa kameranya. Pesan baru dari redaksi pelitanusantara.com muncul: “Kita tunggu laporanmu tentang Pak Joko – ini adalah cerita yang akan menggugah hati banyak orang.”
Langkahnya semakin ringan, karena dia tahu – setiap putaran kaleidoskop membawa jalan baru, dan setiap jalan baru membawa cahaya yang lebih terang.
By Romo Kefas

