Bogor – November 2025. Bulan yang seharusnya membawa kesejukan, justru menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan yang mencabik-cabik Sumatera. Bukan lagi desau angin yang menenangkan, melainkan raungan alam yang memekakkan telinga, mengguncang jiwa, dan meninggalkan luka menganga yang tak mudah disembuhkan. Banjir bandang dan longsor menerjang tanpa ampun, merenggut nyawa, menghancurkan rumah, dan mengubur harapan di bawah timbunan lumpur dan reruntuhan. Sumatera berdarah, dan jerit pilu menggema di setiap sudut tanah yang dulunya subur.
Hingga 28 November 2025 pukul 21.00 WIB, Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) mencatat angka-angka yang membuat hati terenyuh:
– Sumatera Utara: 116 jiwa melayang, 47 di antaranya di Tapanuli Tengah, 32 di Tapanuli Selatan, dan 17 di Kota Sibolga. Setiap nama adalah sebuah tragedi, setiap nyawa adalah kehilangan yang tak tergantikan. Lebih dari sekadar angka, ini adalah kehancuran keluarga, impian yang pupus, dan masa depan yang direnggut paksa.
– Aceh: 45 nyawa melayang dan 25 lainnya hilang, dengan Bener Meriah dan Aceh Tengah menjadi wilayah yang paling terdampak. Jerit pilu keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta menggema di tengah puing-puing harapan. Mereka mencari, merindukan, dan berdoa di antara reruntuhan, berharap ada keajaiban yang datang.
– Sumatera Barat: 48 jiwa meregang nyawa dan 70 lainnya masih dalam pencarian, Agam menjadi wilayah dengan korban terbanyak. Rasa sakit dan ketidakpastian mencengkeram hati para keluarga yang menunggu kabar dari orang-orang terkasih. Setiap detik adalah siksaan, setiap harapan adalah pedang bermata dua.
Namun, angka-angka ini hanyalah representasi abstrak dari penderitaan yang tak terlukiskan. Di balik setiap angka, ada:
– Ibu yang meraung histeris di tengah reruntuhan rumahnya, mencari-cari anaknya yang hilang, memanggil namanya di antara puing-puing, berharap ada jawaban yang menghibur.
– Ayah yang terpaku bisu di depan jenazah istrinya, air mata tak mampu menghapus rasa sakit yang menggerogoti jiwanya. Dia kehilangan separuh jiwanya, dan masa depannya terasa hampa tanpa kehadirannya.
– Anak-anak yatim piatu yang kehilangan masa depan mereka, terpaksa hidup di tenda-tenda pengungsian yang dingin dan penuh ketidakpastian. Mereka adalah korban yang paling rentan, masa depan mereka terancam oleh trauma dan kehilangan.
Jangan pernah sebut tragedi ini sebagai “takdir”. Bencana ini adalah hasil dari:
– Keserakahan yang Merajalela: Para perusak hutan, para penambang ilegal, dan para pengembang yang tidak bertanggung jawab telah merampas hak hidup rakyat Sumatera. Mereka telah mengubah alam menjadi mesin uang, tanpa peduli akan konsekuensi yang mengerikan. Hutan ditebang, gunung digali, dan sungai dicemari demi keuntungan pribadi, tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat.
– Kelalaian yang Sistematis: Pemerintah yang korup, birokrasi yang lamban, dan penegakan hukum yang lemah telah membiarkan perusakan lingkungan terus terjadi. Mereka telah mengabaikan peringatan dini, membiarkan masyarakat hidup dalam bahaya, dan gagal melindungi mereka dari bencana. Janji-janji manis hanya menjadi angin lalu, sementara masyarakat terus hidup dalam ancaman.
– Ketidakpedulian yang Mendarah Daging: Masyarakat yang apatis, media yang penuh sensasi, dan dunia yang acuh tak acuh telah membiarkan tragedi ini terjadi tanpa ada tindakan nyata. Kita semua bersalah karena telah membiarkan keserakahan dan kelalaian merajalela. Kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri, hingga lupa bahwa ada saudara-saudara kita yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Cukup sudah air mata dan ratapan. Saatnya kita bangkit dari keterpurukan dan melakukan revolusi:
– Revolusi Lingkungan: Hentikan perusakan hutan, pulihkan sungai, dan terapkan tata ruang yang berkelanjutan. Hukum seberat-beratnya para pelaku perusakan lingkungan dan berikan kompensasi yang layak kepada para korban. Alam harus dilindungi, bukan dieksploitasi.
– Revolusi Kesiapsiagaan: Bangun sistem peringatan dini yang canggih, latih masyarakat menghadapi bencana, dan siapkan tim relawan yang terlatih. Alokasikan anggaran yang memadai untuk penanggulangan bencana dan pastikan dana tersebut digunakan secara transparan dan akuntabel. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi risiko bencana.
– Revolusi Kemanusiaan: Ulurkan tanganmu, sentuh luka mereka, dan berikan harapan baru bagi saudara-saudara kita di Sumatera. Bantuanmu adalah napas bagi mereka yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Setiap uluran tangan adalah harapan, setiap bantuan adalah kehidupan.
Tragedi ini adalah ujian bagi kemanusiaan kita. Jangan biarkan saudara-saudara kita di Sumatera berjuang sendirian. Mari kita tunjukkan bahwa kita peduli, bahwa kita bersolidaritas, dan bahwa kita siap bertindak untuk membantu mereka.
Sumatera tidak boleh terus berdarah. Mari kita obati luka-lukanya, bangun kembali harapan, dan ciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Jangan pernah lupakan tragedi ini! Bersama, kita bisa mengubah duka menjadi kekuatan, dan membangun Sumatera yang lebih baik.
(Kfs)

