Tujuh Bersaudara: Persaudaraan yang Bertahan di Antara Luka dan Rindu Pulang

Tujuh Bersaudara: Persaudaraan yang Bertahan di Antara Luka dan Rindu Pulang

Spread the love

Tujuh Bersaudara: Persaudaraan yang Bertahan di Antara Luka dan Rindu Pulang

Bogor – Persaudaraan tidak selalu lahir dari tawa. Ada kalanya ia justru tumbuh dari air mata, dari kata-kata yang terucap dalam amarah, dari sikap diam yang menyimpan kekecewaan, dan dari luka yang tak pernah benar-benar diberi nama. Begitulah kisah tujuh bersaudara ini—bukan kisah keluarga sempurna, melainkan kisah keluarga yang memilih bertahan.

Alkitab tidak pernah menggambarkan keluarga sebagai ruang tanpa konflik. Bahkan sejak awal, persaudaraan selalu diuji oleh iri, luka, dan perbedaan. Namun Kitab Suci mengingatkan:

“Sesungguhnya, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” (Mazmur 133:1)

Kerukunan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia diperjuangkan.

Mereka adalah tujuh pribadi dengan watak yang berbeda. Ada yang keras, ada yang lembut. Ada yang mudah tersulut, ada yang memendam. Perbedaan itu membuat persaudaraan ini kerap dipenuhi gesekan. Mereka pernah marah—amarah yang jujur, mentah, dan kadang melukai. Kata-kata keras pernah terucap, meninggalkan bekas yang tidak langsung sembuh.

Dalam kemarahan itu, Firman Tuhan terasa begitu jauh. Padahal Alkitab mengingatkan dengan tegas namun manusiawi:

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” (Efesus 4:26)

Namun tidak semua amarah mereka padam tepat waktu. Beberapa dibiarkan mengendap, berubah menjadi kekecewaan.

Kekecewaan hadir ketika harapan kepada saudara sendiri runtuh. Ada yang merasa berjuang sendirian. Ada yang merasa selalu diminta mengalah. Ada yang merasa kehadirannya hanya dibutuhkan saat diperlukan. Pada titik ini, persaudaraan terasa berat—bahkan menyakitkan.

Namun Alkitab tidak menyangkal realitas luka dalam relasi:

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)

Justru dalam kesukaran itulah makna saudara diuji.

Mereka pernah menjauh. Ada masa-masa sunyi, ketika jarak terasa lebih aman daripada pertemuan. Namun anehnya, tidak satu pun benar-benar pergi. Ketika satu jatuh, yang lain tetap datang—meski tanpa pelukan. Ketika satu lemah, yang lain tetap hadir—meski dengan diam.

Firman Tuhan berbicara lembut di titik ini:

“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Waktu berjalan, bukan untuk menghapus luka, tetapi untuk mengajarkan pengampunan. Bukan pengampunan yang murah, melainkan pengampunan yang lahir dari kesadaran bahwa menyimpan dendam hanya akan merusak diri sendiri. Mereka belajar bahwa tidak semua perbedaan harus dimenangkan, dan tidak semua konflik harus dicatat.

Yesus sendiri berkata dengan sangat radikal:

“Ampunilah, maka kamu akan diampuni.” (Lukas 6:37)

Di sela-sela konflik, kebahagiaan menemukan jalannya sendiri. Tawa yang muncul tiba-tiba. Cerita masa kecil yang kembali hidup. Kenangan tentang meja makan yang sama, doa yang sama, dan pelukan orang tua yang sama. Kebahagiaan itu sederhana, tetapi hangat—kebahagiaan karena tahu bahwa pulang selalu mungkin.

Namun hidup membawa mereka pada kenyataan paling sunyi: orang tua telah tiada.

Tidak ada lagi suara yang memanggil nama mereka dengan kasih tanpa syarat. Tidak ada lagi pelukan yang menjadi tempat pulang paling aman. Pada titik ini, Firman Tuhan terasa sangat nyata:

“Bapa bagi anak yatim dan pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus.” (Mazmur 68:6)

Ketika orang tua pergi, saudara menjadi rumah terakhir.

Yang tersisa hanyalah mereka—tujuh bersaudara dengan segala luka, amarah, dan kenangan. Namun justru di sanalah persaudaraan menemukan bentuknya yang paling dewasa. Mereka sadar bahwa sejauh apa pun hidup membawa mereka pergi, persaudaraan selalu menumbuhkan rindu untuk pulang.

Karena hanya saudara yang tahu siapa kita sebelum dunia mengenal kita.

Alkitab menutup kisah ini dengan kebenaran yang sederhana namun dalam:

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan.” (1 Korintus 13:4–5)

Dan pada akhirnya, mereka mengakui satu hal dengan jujur dan tegas:

Bagaimana pun kita pergi, sejauh apa pun langkah melangkah, persaudaraan akan selalu membuat kita rindu pulang.
Bukan lagi kepada orang tua yang telah tiada,
melainkan kepada saudara—
yang mungkin pernah melukai,
yang mungkin pernah kita lukai,
tetapi tetap menjadi tempat kembali.

Kita boleh kehilangan orang tua,
tetapi selama masih ada saudara,
kita tidak pernah benar-benar kehilangan rumah.


error: Content is protected !!