Ganjar Pranowo : “ Toleransi dan keragaman itu perlu dirawat “

Banten,Klikberita.net Ketua Litbang Pewarna Indonesia, Ashiong P. Munthe yang juga Korwil Pelitanusantara Group di Banten ini , berhasil melakukan wawancara (02/06/2021) dengan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, melalui whatsapp call. Topik wawancara terkait dengan vlognya Ganjar yang mengutip pernyataan Bung Karno, yaitu “pemuda yang kumpul-kumpul sambil mendiskusikan bangsa dan negara, itu jauh lebih baik dibanding dengan pemuda kutu buku”.

Anak Muda Saat Ini Cenderung Soliter
Ganjar memaparkan bahwa anak muda saat ini cenderung soliter. “Saat ini anak muda bukan hanya kutu buku, tapi cenderung soliter atau menyendiri. Hal ini terlihat misalnya lebih asik main game sendiri”, jelasnya.

Ganjar lanjut bertutur bahwa “Hal itu semakin didukung dengan situasi sekolah daring karena Covid-19 yang memperkuat kesendirian. Ada banyak anak muda yang kurang berdiskusi. Cukup hanya membaca media sosial”.

Meskipun demikian, Ganjar mengakui tidak semua anak muda soliter.  “Tetap ada anak muda kreatif, cerdas dan mampu menembus batas, menjelajah ke seluruh dunia. Kesempatan saat ini dimanfaatkan untuk berdiskusi secara luas dengan warga dunia, misalanya melalui zoom, google meet”. “Daya untuk menembus batas tersebut, memperluas pergaulan dan wacana”, lanjutnya.

Anak Muda Menjadi Aktivis
Terkait anak muda yang menjadi aktivis, Ganjar berpendapat Ketika menjadi aktivis, tentunya orang tua cemas dan khawatir anaknya bisa terlua dan bentrok. Orang tua saya dulu, juga tidak setuju kalau saya menjadi aktivis, karena takut anaknya kenapa-kenapa”, ungkapnya.

Saran Ganjar, saat menyalurkan aspirasi, harus cerdas dan cermat. “Menyalurkan aspirasi bisa melalui lembaga yang siap menampung dan menyalurkannya”. Oleh karena itu, lanjutnya “Perlu dipastikan lembaga-lembaga tersebut tidak tersumbat dan menjamin bisa menyampaikan aspirasi”.

Pengalaman menghadapi pendemo, Ganjar bertutur, “Saat demo, tidak memahami aspirasi yang diusung. Hanya sekedar ikut-ikutan saja”. Terkait demonstrasi, Ganjar setuju. “Demonstrasi sah-sah saja, namun kondisi Covid-19 ini tidak dibenarkan agar tidak menularkan covid-19 lebih luas”. Namun, “Saat menyampaikan aspirasi, tetap harus menjaga keamanan dan ketertiban”, tegasnya.

Bagi Ganjar bahwa anak tua (orang tua) harus menjadi teladan. “Saya tidak setuju jika anak muda selalu disalahkan, misalnya tidak tahu tata krama, tidak hafal Pancasila. Namun, di sisi lain “anak tuanya”, tidak menjadi contoh dan teladan.  Harusnya orang tua menjadi teladan”, pungkasnya.

“Ada banyak contoh yang tidak baik diperagakan orang tua, misalnya korupsi, selalu menyalahkan orang lain, mau menang dan benar sendiri, makian diangap sebagai keasyikan, teriak-teriak dan mengumbar kebencian. Harusnya orang tua bisa menjadi teladan yang baik”, jelasnya.

Untuk itu, lanjutnya “orang tua menjadi pengontrol dan pendamping bagi anak muda. Perlu ada representasi role model dari tokoh agama atau pejabat untuk ditonjolkan. Kebaikan kecil dan menginspirasi harus terus ditonjolkan dan amplifikasi”, tuturnya.

Menjaga toleransi dengan mengimplentasikan Pancasila
Terkait toleransi, terang Ganjar, “Saya kira, bukan hanya toleransi, tetapi harusnya merawat dengan mengimplementasikan Pancasila. Nilai kemanusiaan tidak hanya untuk satu agama atau suku saja, tetapi bagi seluruh warga negara”.

Baginya seluruh warga harus diayomi dan dilindungi, karena itu amanat konstitusi. “Saya menjumpai Pendeta, Pastor, Bhikhu dan semuanya dalam konteks sebagai rakyat saya”. Lanjutnya “Bukan hanya itu, bahkan saya menjumpai eks napi teroris. Saya menunjukkan kepada publik, bahwa bhinneka tunggal ika, menerima keragaman yang ada. Jikalau ada perbedaan itu adalah hal yang biasa”.

Pesannya, bahwa bangsa ini harus dirawat dalam keberagaman. “Belajar dari sejarah ketika nilai-nilai Pancasila dilahirkan, tidak mudah. Indonesia bagian Timur tidak setuju tujuh (7) kata dimasukan dalam Pancasila. Ini sebagai bentuk konsesus. Untuk itu, anak cucu bangsa ini harus dirawat dalam keberagaman”, terangnya.

“Toleransi dan keragaman itu perlu dirawat. Untuk itu, perlu berhati-hati berbicara atau membawa pesan kelompok agar tidak menyakiti yang lainnya. Ketika ada perbedaan harus bisa saling menghargai perbedaan tersebut”, lanjutnya.

Mantan Teroris Diajak Bicara Pancasila


Ganjar menjelsakan bahwa “Mereka diajak untuk membicarakan Pancasila, karena internalisasinya lebih baik. Misalnya Jack Harun, eks teroris bom Bali yang kini jualan soto, saat kumpul dengan dia dan teman-temanya sambil makan soto. Saya bertanya, Anda belajar meracik bumbu soto dimana? Jawabnya, kan dulu Saya tukang meracik bom Pak, sekarang meracik bumbu soto”, jelasnya sambal tertawa.

“Saat mereka dipengaruhi untuk melakukan bom, mereka tidak punya pilihan. Mereka hanya dibeberkan suatu perbandingan yang tidak ada pilihanya, sehingga saat memilih yang lainnya akan keliru”, lanjutnya. “Saat melakukan pengeboman, kemudia ditangkap dan ditahan, akhirnya mulai menyadari dan menyesali, bahwa yang dilakukannya adalah kekeliruan”, jelasnya.

Agama dan Konstitusi
Bagi Ganjar, “Jikalau berhubungan dengan Tuhan harus menggunakan kitab suci. Namun, terkait dengan negara, perlu ada kesepakatan bersama. Bernegara dan berbangsa menggunakan hukum dunia”, tandasnya.

“Tidak ada demokrasi tanpa politik. Politik itu agung. Tidak selamanya politik itu kejam. Orang baik harus terlibat di dalamnya”, Jelasnya. “Anak-anak muda harus diajak terlibat di dalamnya, tanpa menanggalkan identitas keyakinan masing-masing dalam konteks bernegara.Harus ada moderenisasi beragama”, ungkapnya.

Sebagai penutup, Ganjar berpesan bagi anak muda “Menatap masa depan itu jangan pesimis duluan, tetapi harus dengan harapan yang kuat tanpa mau gagal duluan sebelum berjuang. Dengan demikian, anak muda tidak hanya sebagai penonton yang pintar memberikan kritik, tetapi menjadi pelaku agar paham arena dan perjuangan”. APM

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
error: Content is protected !!
0
Ayo tinggalkan komentar :)x
()
x