
Hadapi Era Perang Digital, Kostrad Siapkan Prajurit Siber yang Adaptif dan Tangguh
Jakarta – Ancaman terhadap kedaulatan negara kini tidak lagi hanya datang dari medan tempur konvensional. Perkembangan teknologi informasi telah melahirkan bentuk ancaman baru yang bergerak di balik layar komputer, jaringan internet, hingga ruang media sosial. Menyadari perubahan lanskap tersebut, Kostrad terus memperkuat kapasitas sumber daya manusianya melalui Penataran Siber Satuan Jajaran Kostrad Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari di Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, menjadi bagian dari upaya strategis membangun kesiapan prajurit dalam menghadapi dinamika ancaman digital yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Dalam era modern, ruang siber telah berkembang menjadi salah satu domain strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas keamanan dan pertahanan negara. Serangan digital, penyebaran disinformasi, propaganda, hingga upaya pencurian data menjadi tantangan yang harus diantisipasi oleh setiap institusi pertahanan.
Melalui program penataran ini, peserta mendapatkan berbagai pembekalan yang berfokus pada peningkatan kemampuan deteksi dini terhadap ancaman siber, penguatan sistem pengamanan informasi, serta pemahaman mengenai pola perang informasi yang berkembang di era digital.
Amanat Panglima Kostrad Letjen TNI Mohammad Fadjar, MPICT., yang dibacakan Asisten Intelijen Kaskostrad Kolonel Inf Bachtiar Susanto menegaskan bahwa penguasaan teknologi dan literasi digital telah menjadi kebutuhan mendesak bagi prajurit masa kini. Kemampuan tersebut tidak hanya mendukung pelaksanaan tugas intelijen dan pengamanan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari kesiapan menghadapi bentuk-bentuk ancaman nonkonvensional.
Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi dalam menghadapi tantangan era digital sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi personel menjadi langkah penting dalam membangun sistem pertahanan yang modern dan adaptif.
Selain materi teknis, para peserta juga dibekali pemahaman tentang pentingnya budaya keamanan informasi di lingkungan satuan. Kesadaran terhadap perlindungan data dan kerahasiaan informasi dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas operasi serta mencegah berbagai risiko kebocoran informasi.
Penataran ini juga menekankan pentingnya kemampuan menganalisis berbagai isu yang berkembang di ruang digital. Di tengah derasnya arus informasi, prajurit dituntut mampu membedakan fakta dan manipulasi informasi yang berpotensi memengaruhi stabilitas organisasi maupun kepentingan nasional.
Kostrad menilai bahwa perang modern tidak selalu ditandai dengan penggunaan senjata fisik. Serangan terhadap opini publik, manipulasi informasi, dan upaya memengaruhi persepsi masyarakat kini menjadi bagian dari strategi yang digunakan dalam berbagai konflik global.
Karena itu, para peserta yang telah mengikuti penataran diharapkan mampu menjadi penggerak peningkatan literasi digital di satuan masing-masing. Ilmu dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada personel lain sehingga tercipta budaya kewaspadaan siber yang kuat di seluruh jajaran Kostrad.
Penutupan kegiatan yang dilakukan oleh Asintel Kaskostrad menjadi penanda berakhirnya proses pembelajaran, sekaligus awal dari implementasi ilmu yang diperoleh di lingkungan tugas masing-masing.
Di era ketika informasi dapat menjadi senjata dan ruang digital menjadi medan baru pertahanan, Kostrad memilih untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga membangun prajurit yang mampu memahami, mengamankan, dan menguasainya. Sebab menjaga kedaulatan bangsa hari ini tidak hanya dilakukan di darat, laut, dan udara, tetapi juga di dunia siber yang terus berkembang tanpa batas.
Jurnalis : Romo Kefas
Editor : Tim Redaksi





