
Santri Tak Lagi Dipinggirkan, Super App “Santri Mendunia” Jadi Simbol Lompatan Baru Pesantren Indonesia
Jakarta — Dunia pesantren Indonesia memasuki babak baru. Di tengah derasnya arus transformasi teknologi global, kalangan santri kini mulai menunjukkan diri sebagai bagian penting dari masa depan digital bangsa. Momentum itu terlihat dalam peluncuran Super App “Santri Mendunia” yang digelar di SMESCO Indonesia, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Peluncuran platform tersebut bukan hanya seremoni teknologi biasa. Di balik aplikasi itu tersimpan gagasan besar tentang bagaimana pesantren mampu membangun ekosistem modern tanpa kehilangan identitas dan nilai keislaman yang selama ini menjadi pondasi utama pendidikan santri.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh nasional dan pegiat pendidikan pesantren, di antaranya Ketua Biro SDM Kementerian Agama Republik Indonesia Dr. Muhammad Zein, pendiri Santri Mendunia Moh Abdul Aziz Nawawi, pembina Joko Prasetyo, serta mentor santri Nidzom Ad-Dien.
Dalam keterangannya, Dr. Muhammad Zein menilai bahwa transformasi digital pesantren merupakan langkah strategis agar generasi santri tidak tertinggal dalam persaingan global. Menurutnya, santri hari ini harus mampu berdiri sejajar dengan generasi muda lainnya dalam bidang teknologi, inovasi, dan kreativitas.
“Pesantren memiliki kekuatan moral dan intelektual yang besar. Ketika itu dipadukan dengan teknologi, maka akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berkarakter,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Santri Mendunia Moh Abdul Aziz Nawawi menyampaikan bahwa aplikasi tersebut dirancang untuk menjadi ruang pengembangan santri secara menyeluruh. Ia menyebut banyak potensi santri selama ini belum mendapatkan wadah yang tepat di era digital.
“Santri punya talenta besar. Ada yang ahli desain, bisnis, jurnalistik, teknologi, hingga kewirausahaan. Kami ingin semua itu terhubung dan berkembang dalam satu sistem,” katanya.
Berbagai fitur diperkenalkan dalam platform tersebut, mulai dari layanan pendidikan dan pelatihan, informasi beasiswa, lowongan pekerjaan, media informasi santri, hingga marketplace produk pesantren dan UMKM santri. Kehadiran fitur-fitur itu diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas bagi kalangan pesantren di seluruh Indonesia.
Tidak hanya berbicara teknologi, forum dialog dalam acara itu juga menyoroti pentingnya menjaga identitas pesantren di tengah modernisasi. Para narasumber menegaskan bahwa digitalisasi tidak boleh menghilangkan adab, etika, dan tradisi yang menjadi ciri khas kehidupan santri.
Diskusi interaktif bersama Bang Jack, Gus Nidzom, Abdul Muin Hasan, dan Roihan Qowima yang dipandu Aceng Fajri berlangsung dinamis. Mereka sepakat bahwa santri masa kini harus mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai keagamaan.
Peluncuran Super App “Santri Mendunia” pun menjadi pesan kuat bahwa pesantren bukan lagi sekadar lembaga pendidikan tradisional, melainkan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia di era modern.
Kini, dari ruang-ruang pesantren di berbagai pelosok negeri, lahir harapan baru bahwa santri Indonesia mampu menembus batas dunia melalui teknologi, kreativitas, dan kekuatan akhlak.





