
Jakarta – Indonesia hari ini sedang menghadapi kenyataan yang pahit.
Demokrasi memang masih berjalan. Pemilu masih dilaksanakan. Partai-partai politik masih berbicara atas nama rakyat.
Tetapi di balik semua itu, masyarakat mulai merasakan sesuatu yang semakin hilang dari kehidupan berbangsa:
hati nurani dalam politik.
Rakyat setiap hari disuguhi:
- korupsi,
- Operasi Tangkap Tangan (OTT),
- politik uang,
- konflik elite,
- hukum yang terasa tidak adil,
- dan perebutan kekuasaan yang semakin vulgar.
Ironisnya, semua itu perlahan dianggap biasa.
Bangsa ini seperti sedang dipaksa terbiasa hidup di tengah krisis moral.
Dan yang paling berbahaya: ketika rakyat mulai kehilangan harapan bahwa politik bisa berubah menjadi lebih baik.
Kekuasaan Hari Ini Lebih Mahal dari Kejujuran
Mari bicara apa adanya.
Politik Indonesia sekarang bukan hanya soal gagasan.
Politik sudah berubah menjadi:
- pertarungan modal,
- permainan jaringan,
- dan perebutan pengaruh kekuasaan.
Untuk bertahan di politik dibutuhkan:
- uang besar,
- media besar,
- relasi kuat,
- dan dukungan oligarki.
Akibatnya, banyak orang baik akhirnya tersingkir sebelum sempat berjuang.
Sementara mereka yang memiliki kekuatan modal lebih mudah mengendalikan arah politik nasional.
Di situlah demokrasi perlahan berubah: dari perjuangan rakyat menjadi arena transaksi elite.
OTT Terjadi Terus, Tetapi Korupsi Tidak Pernah Berhenti
Hampir setiap tahun rakyat menyaksikan berita yang sama:
- kepala daerah ditangkap,
- pejabat kementerian terkena OTT,
- hakim menerima suap,
- anggota DPR terseret korupsi,
- hingga aparat hukum yang ikut bermain mafia kasus.
Kasus demi kasus datang tanpa henti:
- bansos dikorupsi saat rakyat susah,
- proyek infrastruktur dijadikan bancakan,
- pajak dimainkan,
- anggaran negara dijarah,
- dan jabatan diperjualbelikan.
Yang lebih menyakitkan, sebagian pelaku masih bisa:
- tersenyum,
- melambaikan tangan,
- bahkan kembali tampil di ruang publik setelah menjalani hukuman.
Sementara rakyat kecil yang mencuri karena lapar sering diproses lebih cepat dan lebih keras.
Di sinilah rakyat mulai bertanya: apakah hukum benar-benar bekerja untuk keadilan, atau hanya untuk menjaga kekuasaan?
Politik Identitas Menjadi Senjata Paling Murah
Ketika rakyat mulai marah terhadap korupsi dan ketidakadilan, muncul satu pola yang terus berulang dalam politik Indonesia:
identitas dipakai untuk mengalihkan perhatian.
Agama dipakai. Suku dipakai. Kelompok dipertentangkan.
Rakyat dibuat sibuk bertengkar soal identitas, sementara elite tetap nyaman membangun kekuasaan dan memperkaya diri.
Akibatnya, masyarakat semakin terpecah.
Dan demokrasi perlahan kehilangan substansinya sebagai ruang persatuan kebangsaan.
Padahal Indonesia dibangun bukan untuk saling mencurigai, tetapi untuk hidup bersama dalam keberagaman.
Partai Anak Muda Pun Akhirnya Kehilangan Identitas
Yang menarik sekaligus menyedihkan, fenomena ini tidak hanya terjadi pada partai-partai lama.
Bahkan partai yang awalnya tampil dengan citra:
- partai anak muda,
- partai perubahan,
- partai anti korupsi,
- dan partai masa depan,
perlahan ikut kehilangan identitas ketika masuk dalam lingkaran kekuasaan oligarki politik nasional.
Awalnya mereka tampil dengan semangat idealisme:
- membawa harapan generasi muda,
- berbicara tentang meritokrasi,
- transparansi,
- dan politik bersih.
Tetapi ketika mulai dekat dengan kekuasaan, banyak yang akhirnya:
- ikut larut dalam pragmatisme,
- kehilangan sikap kritis,
- berubah menjadi alat kepentingan elite,
- dan lebih sibuk menjaga akses kekuasaan dibanding menjaga idealisme perjuangan.
Akibatnya, generasi muda kembali kecewa.
Karena mereka melihat bahkan partai yang mengatasnamakan anak muda pun akhirnya terseret ke dalam budaya politik lama:
- politik pencitraan,
- politik dinasti,
- dan politik kompromi demi kekuasaan.
Di sinilah publik mulai sadar bahwa masalah terbesar politik Indonesia bukan sekadar pergantian generasi.
Tetapi sistem kekuasaan oligarki yang mampu menyerap dan melemahkan hampir semua idealisme politik.
Intoleransi Tumbuh Saat Politik Kehilangan Moral
Hari ini bangsa ini masih menyaksikan:
- penolakan rumah ibadah,
- intimidasi terhadap kelompok minoritas,
- ujaran kebencian,
- pembubaran kegiatan ibadah,
- dan diskriminasi yang kadang dibiarkan tumbuh di ruang publik.
Ironisnya, sebagian tindakan intoleransi sering memiliki hubungan dengan kepentingan politik.
Karena politik identitas terbukti efektif membangun emosi massa.
Akibatnya, demokrasi berubah menjadi arena ketakutan.
Dan rakyat kecil kembali menjadi korban.
Politik Hari Ini Terlalu Banyak Aktor, Terlalu Sedikit Negarawan
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan politisi.
Setiap hari televisi penuh dengan:
- perdebatan elite,
- konferensi pers,
- pencitraan,
- dan slogan tentang rakyat.
Tetapi yang semakin langka adalah negarawan.
Pemimpin yang:
- berani berkata benar,
- siap melawan korupsi,
- tidak takut kehilangan jabatan demi keadilan,
- dan benar-benar bekerja untuk rakyat kecil.
Karena terlalu banyak orang masuk politik untuk:
- kekuasaan,
- proyek,
- jabatan,
- dan pengaruh.
Bukan untuk pengabdian.
Generasi Muda Mulai Muak dengan Politik Lama
Ini tanda zaman yang penting.
Generasi muda Indonesia hari ini mulai kehilangan kepercayaan terhadap pola politik lama.
Mereka lelah melihat:
- drama elite,
- janji kosong,
- pencitraan media,
- dan politisi yang berubah setelah berkuasa.
Anak muda sekarang lebih tertarik pada:
- kejujuran,
- transparansi,
- kerja nyata,
- dan keberanian moral.
Mereka tidak lagi mudah percaya pada slogan besar.
Karena generasi muda hidup langsung di tengah:
- sulitnya pekerjaan,
- mahalnya pendidikan,
- ketidakpastian ekonomi,
- dan ketimpangan sosial.
Mereka ingin politik yang lebih manusiawi.
Bukan politik yang hanya sibuk berebut kursi kekuasaan.
Gereja dan Tokoh Moral Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton
Di tengah krisis seperti ini, bangsa sebenarnya membutuhkan suara moral.
Tetapi yang terjadi justru banyak lembaga moral:
- memilih aman,
- takut bicara,
- atau terlalu dekat dengan kekuasaan.
Padahal bangsa ini membutuhkan:
- keberanian,
- keteladanan,
- dan suara yang mampu mengingatkan penguasa ketika mulai kehilangan hati nurani.
Karena jika semua diam, maka ruang publik akan sepenuhnya dikuasai oleh oligarki dan pragmatisme.
Indonesia Sedang Menunggu Politik yang Memiliki Hati
Bangsa ini sebenarnya tidak sedang mencari pemimpin yang paling pandai berbicara.
Rakyat sedang mencari:
- pemimpin yang jujur,
- berani,
- sederhana,
- dan benar-benar peduli kepada rakyat kecil.
Indonesia membutuhkan politik yang:
- tidak menjual ketakutan,
- tidak memecah bangsa,
- dan tidak memperalat agama demi kekuasaan.
Politik harus kembali menjadi:
- ruang pengabdian,
- perjuangan keadilan,
- dan alat menjaga masa depan bangsa.
Indonesia hari ini sedang menghadapi pertarungan besar: antara politik hati nurani dan politik kekuasaan.
Jika politik kekuasaan terus mendominasi, maka demokrasi hanya akan menjadi alat elite untuk mempertahankan pengaruh dan kekayaan.
Tetapi jika bangsa ini masih memiliki keberanian untuk membangun politik yang:
- jujur,
- bermoral,
- adil,
- dan berpihak kepada rakyat,
maka Indonesia masih memiliki harapan untuk bangkit menjadi negara yang benar-benar demokratis dan bermartabat.
Karena pada akhirnya, bangsa tidak hancur hanya karena korupsi atau perebutan kekuasaan.
Bangsa hancur ketika rakyat mulai percaya bahwa kejujuran tidak lagi punya tempat dalam politik.
Dan ketika hati nurani kalah oleh kekuasaan, di situlah demokrasi perlahan kehilangan jiwanya sendiri.
Ditulis oleh: Kefas Hervin Devananda
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia, Penggiat Budaya, dan Aktivis 98



